MORFOFONEMIK I

20
22.45
MORFOFONEMIK I

1.      PENGERTIAN MORFOFONEMIK
Kata morfofonemik menunjukan adanya hubungan antara morfem dengan fonem. Morfofonemik itu sendiri merupakan perubahan bentuk sebuah morfem berdasarkan bunyi lingkungannya, yaitu yang menyangkut hubungan antara morfem dan fonem (Parera, 1988:30). Morfofonemik mempelajari perubahan-perubahan fonem yang timbul sebagai akibat pertemuan morfem dengan morfem lain (Ramlan, 1983:73).

Morfofonemik adalah kajian mengenai terjadinya perubahan bunyi atau perubahan fonem sebagai akibat dari adanya proses morfologi, baik proses afiksasi, proses reduplikasi, maupun proses komposisi. Contohnya, dalam proses pengimbuhan sufiks-an pada dasar “hari” akan muncul bunyi {y}, yang dalam artografi tidak dituliskan tetapi dalam ucapan di tuliskan.
Contoh : hari + an menjadi [hariyan]
Selain itu, dalam proses pengimbuhan sufiks-an pada dasar “jawab” akan terjadi pergeseran letak bunyi {b} kebelakang, membentuk suku kata baru.
Contoh : ja.wab + an menjadi [ja.wa.ban].

2.      PENGHILANGAN BUNYI
Proses hilangnya fonem /N/ pada meN- dan peN- terjadi karena adanya pertemuan morfem meN- dan peN- dengan bentuk dasar yang berawal dengan fonem /I,r,y,w,dan nasal/.
Misalnya:
meN- + lerai menjadi melerai
peN- + lupa menjadi pelupa

Fonem /r/ pada morfem ber-, per-, dan ter- hilang sebagai akibat pertemuan morfem-morfem itu dengan bentuk dasar yang berawal dengan fonem /r/ dan bentuk dasar yang suku pertamanya berakhir dengan /r/.
Misalnya:
Ber- + rapat menjadi berapat
Per- + ragakan menjadi peragakan
Ter- + rasa menjadi terasa

Fonem-fonem /p,t,s,k/ pada awal morfem hilang akibat peertemuan morfem meN- dan peN- dengan bentuk dasar yang berawal dengan fonem-fonem tersebut.
Misalnya:
meN- + paksa menjadi memaksa
peN- + pengkas menjadi pemangkas
Demikianlah proses morfofonemik yang dikemukakan oleh Ramlan, yaitu penggunaan perlambangan yang berbeda untuk afiks-afiks tertentu ramlan menggunakan lambing meN-, peN-, dan peN-an.

3.      PENAMBAHAN BUNYI
Proses penambahan bunyi, antara lain terjadi karena adanya pertemuan morfem meN- dengan bentu dasar yang terdiri atas satu suku kata fonem tambahannya ialah / /, sehingga meN- berubah menjadi menge-.
Misalnya:
meN- + bom menjadi mengebom
Proses penambahan fonem / / terjadi karena adanya pertemuan morfem peN- dengan bentuk dasar yang terdiri atas satu suku, sehingga morfem peN- berubah menjadi penge-.
Misalnya:
peN- + bor menjadi pengebor

Pada contoh-contoh tersebut diatas jelaslah bahwa selain proses penambahan fonem / /, terjadi juga proses perubahan fonem, yaitu perubahan fonem /N/ menjadi /n/ seperti yang telah dikemukakan pada pembahasan mengenai perubahan fonem. Pertemuan morfem –an, ke-an, pe-an dengan bentuk dasarnya, dapat menyebabkan adanya penambahan fonem /?/ apabila bentuk dasarnya berakhir dengan vokal /a/, penambahan /w/ apabila bentuk dasarnya berakhir dengan /u,o,aw/, dan terjadi penambahan /y/ apabila bentuk dasarnya berakhir dengan /i,ay/.
Misalnya:
-an + hari menjadi harian/hariyan/
ke-an + pandai/panday menjadi kepandaian/kepandayan/
per-an + hati mejadi perhatian/perhatiyan/
peN-an + cuci menjadi pencucian/pencuciyan/

4.      PERUBAHAN BUNYI
Proes perubahan fonem terjadi karena adanya pertemuan fonem meN- dan peN- dengan bentuk dasarnya. Fonem /N/ pada kedua morfem berubah menjadi /m,n,ñ,ŋ/, hingga morfem meN- berubah menjadi mem-, men-, meny-, dan meng-, an morfem peN- berubah menjadi pem-, pen-, peny-, dan peng-. Perubahan-perubahan itu tergantung pada kondisi bentuk dasar yang mengikutinya. Dalam hal ini bunyi /N/ harus berubah menjadi bunyi nasal yang articulator dan daerah artikulasinya sama homorgan, dengan bunyi pertama bentuk dasarnya.
Misalnya :
meN- berubah menjadi mem- apabila melekt pada bentuk dasar yang diawali dengan fonem b sebab bunyi nasal yang homorgan dengan b/ adalah /m/.

Selanjutnya, kaidah-kaidah perubahan bunyi nasal (/N/) tersebut dapat di ikhtisarkan sebagai berikut :
a)      Fonem /N/ pada morfem meN- dan peN- berubah menjadi fonem /m/ apabila bentuk dasar yang mengikutinya berawal dengan /p,b,f/. Uraiannya sebagai berikut:
1)      meN- + bentuk dasar yang berawal fonem /p/,misalnya:
meN- + paksa menjadi memaksa
2)      peN- + bentuk dasar yang berawal fonem /p/,misalnya:
peN- + paksa menjadi pemaksa
3)      meN- + bentuk dasar yang berawal fonem /b/, misalnya:
meN- + bantu menjadi membantu
4)      peN- + bentuk dasar yang berawal fonem /b/, misalnya :
peN- + bantu menjadi pembantu
5)      meN- + bentuk dasar yang berawal fonem /f/, misalnya:
meN- + fitnah menjadi memfitnah
6)      peN- + bentuk dasar yang berawal fonem /f/, misalnya:
peN- + fitnah menjadi pemfitnah

b)      Fonem /N/ pada meN berubah menjadi fonem /n/ apabila bentuk dasar yang mengikutinya berawal dengan fonem /t,d,s,/. Fonem /s/ disini hanya khusus bagi beberapa bentuk dasar yang berasal dari bahasa asing yang masih mempertahankan keasingannya. Uraiannya adalah sebagai berikut :
1)      meN- + bentuk dasar yang berawal fonem /t/, misalnya :
meN- + tulis menjadi menulis
2)      peN- + bentuk dasar yang berawal fonem /t/, misalnya :
peN- + tulis menjadi penulis
3)      meN- + bentuk dasar yang berawal fonem /d/, misalnya :
meN- + datangkan menjadi mendatangkan
4)      peN- + bentuk dasar yang berawal fonem /d/, misalnya :
peN- + datang menjadi pendatang
5)      peN- + bentuk dasar yang berawal fonem /s/, misalnya :
meN- + support menjadi mensupport
6)      peN- + bentuk dasar yang berawal fonem /s/, misalnya :
peN- + support menjadi pensupport

c)      Fonem /N/ pada morfem meN- dan peN berubah menjadi /ñ/ apabila bentuk dasar yang mengikutinya berawal dengan /s, s, c, j/. uraiannya sebagai berikut:
1)      meN- + bentuk dasar yang berawal fonem /s/, misalnya :
meN- + sapu menjadi menyapu
2)      peN-+ bentuk dasar yang berawal fonem /s/, misalnya :
peN- + sapu menjadi penyapu
3)      meN- + bentuk dasar yang berawal fonem /s/, misalnya :
meN- + syaratkan menjadi mensyaratkan
4)      meN- + bentuk dasar yang berawal fonem /c/, misalnya :
meN- + cari menjadi meñcari
5)      peN- + bentuk dasar yang berawal fonem /c/, misalnya:
peN- + cari menjadi peñcari
6)      meN- + bentuk dasar yang berawal fonem /j/, misalnya:
meN- + jadi menjadi menjadi
7)      peN- + bentuk dasar yang berawal fonem /j/, misalnya :
peN- + judi menjadi penjudi

d)     Fonem /N/ pada meN- dan peN berubah menjadi /h/ apabila bentuk dasar yang mengikutinya berawal dengan fonem /k, g, x, h, dan vocal/. Uraiannya adalah sebagai berikut :

1)      meN- +  bentuk dasar yang berawal fonem /k/, misalnya:
 meN- + kacau menjadi mengacau
2)      peN-  +  bentuk dasar yang berawal fonem /k/, misalnya :
peN-  + kacau menjadi pengacau
3)       meN- + bentuk dasar yang berawal fonem /g/, misalnya :
meN-  + garis menjadi menggaris
4)      peN-  + bentuk dasar yang berawal fonem /g/, misalnya :
peN-  + garis menjadi penggaris
5)      meN-  + bentuk dasar yang berawal fonem /k/, misalnya :
meN-  + khayalkan menjadi mengkhayalkan
6)      peN-  + bentuk dasaar yang berawal fonem /k/, misalnya :
peN-  + khayal menjadi pengkhayal
7)      meN-  + bentuk dasar yang  berawal fonem /h/, misalnya :
meN-  + habiskan menjadi menghabiskan
8)      peN-  + bentuk dasar yang berawal fonem /h/, misalnya :
peN-  + habisan menjadi penghabisan
9)      meN- + bentuk dasar fonem awalnya berupa vokal, misalnya :
meN- + angkut menjadi mengangkut
10)  peN- + bentuk dasar fonem awalnya berupa vokal, misalnya :
peN- + angkut menjadi pengangkut

fonem /N/ juga berubah menjadi /h/ apabila menghadapi bentuk dasar yang terdiri atas satu suku kata. Uraiannya adalah sebagai berikut :
1)      meN- + bentuk dasar yang berawal fonem /b/, misalnya :
meN- + bom menjadi mengebom
2)      peN-  + bentuk dasar yang berawal fonem /b/, misalnya :
peN- + bom menjadi pengebom
Di samping proses perubahan, pada kata-kata itu terjadi juga proses penambahan, ialah penambahan fonem / /.
Fonem /r/ pada morfem ber- dan per- mengalami perubahan menjadi /l/ sebagai akibat.
Pertemuan morfem tersebut dengan bentuk dasarnya yang berupa morfem ajar
Ber-     +          ajar      menjadi           belajar
Per-      +          ajar      menjadi                                               pelajar                
Fonem /?/ pada morfem-morfem duduk /dudu?/, rusak rusa?/, petik /p ti?/, dan sebagainya, berubah menjadi /k/ sebagai akibat pertemuan morfem-morfem itu dengan morfem ke-an, peN-an, dan - i, misalnya :
Ke-an              +          duduk / dudu?/ menjadi kedudukan / k dudukan/
peN-an                        +          petik / peti?/     menjadi pemetikan / p m tikan/
- i                     +          petik / peti?/    menjadi petiki /p tiki/    




Tentang kami

Kami dari kelompok 10 morfologi hanya ingin memberikan yang terbaik walaupun tidak menjadi yang terbaik.

20 komentar:

  1. Umi Hasanah A1B112012

    Mengapa perubahan, penambahan ,dan penghilangan fonem terjadi pada huruf-huruf tertentu ? Apakah ada syarat atau ketentuan huruf yang dapat merubah,menambah dan menghilngkan fonem seperti huruf vokal atau konsonan! tolang jelaskan

    BalasHapus
  2. Nama: Siti Nailah
    NIM: A1B112011
    Saya ingin bertanya, apa perbedaan penambahan bunyi dengan perrubahan bunyi berdasarkan contoh meN + bom menjadi mengebom ?

    BalasHapus
  3. Nama: Khairunnisa
    NIM: A1B112057
    Perubahan bunyi fonem meN- berubah menjadi mem-, men-, meny-, dan meng-, dan morfem peN- berubah menjadi pem-, pen-, peny-, dan peng-. Mengapa perubahan-perubahan itu harus tergantung pada kondisi bentuk dasar yang mengikutinya?

    BalasHapus
  4. Nama: Dini Nurlaili
    NIM: A1B112001
    saya akan menjawab pertanyaan dari Khairunisa
    meN dan peN nasal berubah tergantung pd kondisi bntuk dasar yg mengikutinya karena penyesuaian fonem nasal pada daerah dasar artikulasi kita.
    contoh:
    peN+lupa= pelupa
    meN-an+lupa= melupakan
    apabila meN dan peN tidak mengikuti kondisi bentuk dasarnya maka akan menjadi:
    peN+lupa= penlupa
    meN-an+lupa= menlupakan
    Terima kasih

    BalasHapus
  5. nama : kartini
    nim : A1B112024

    saya ingin bertanya apa yang membedakan morfofonemik dengan proses morfologis lainnya, seperti proses morfologisI atau II, dan apa hubungannya?

    terimakasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Noor Janah
      NIM : A1B112006

      Saya akan menjawab pertanyaan Kartini. Menurut saya perbedaan proses morfologis dengan morfofonemik yaitu, proses morfologis merupakan proses pembentukan kata, misalnya dalam komposisi , kata kambing + hitam menjadi kambing hitam. Sedangkan morfofonemik merupakan perubahan bentuk morfem berdasarkan bunyi, misalnya dalam penghilangan bunyi morfem peN- + lupa menjadi pelupa.
      Adapun hubungan antara proses morfologis dengan morfofonemik ialah perubahan bunyi atau perubahan fonem dalam morfofnemik merupakan akibat dari adanya proses morfologis, baik proses afiksasi, proses rduplikasi, maupun proses komposisi. Contohnya, dalam proses pengimbuhan sufiks -an pada dasar “hari” akan muncul bunyi {y}, yang dalam artografi tidak dituliskan tetapi dalam ucapan di tuliskan.
      Contoh : hari + an menjadi [harian]

      Hapus
  6. NAMA : NUR AYU LESTARI
    NIM : A1B112031
    Penghilangan bunyi
    meN-+ lerai menjadi melarai
    PeN-+ lupa menjadi pelupa
    Penambahan bunyi
    MeN-+bom menjadi mengebom
    PeN-+bor menjadi pengebor
    Menurut kelompok kalian, apa yang menyebabkan terjadinya penghilangan dan penambahan bunyi tersebut? Dan menyapu, menurut kalian apakah penambahan bunyi ataukah penghilangan bunyi?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama : M.Fahrizal Rizakiadi
      NIM: A1B112033
      Saya akan menjawab pertanyaan dari Tari penghilangan bunyi Men+lerai = melerai, Pen+lupa = pelupa.
      Menurut saya, terjadinya penambahan dan pengurangan bunyi tergantung pada kondisi bentuk dasar yang mengikutinya. Contohnya, pada penambahan bunyi terjadi karena danya pertemuan morfem meN- dengan bentuk dasar yang terdiri atas suku kata yaitu /ŋ/ yang di baca menjadi ng, yang telah di pelajari dalam proses fonologi.. Sedangkan pada penghilangan bunyi terjadi karena pertemuan morfem meN- dan peN dengan bentuk dasar yang berawalan dengan fonem /I,r,y,w/, dan nasal/. Jadi, jika tidak memenuhi syarat yang telah ditetapkan maka penambahan dan penghilangan bunyi tidak dapat terjadi.
      Menyapu menurut kami adalah termasuk penambahan bunyi karena meN- + sapu = menyapu. meN- memiliki struktur fonologis me-, mem-, men-, meng-, menge-, dan meny-. Sehingga meN + sapu = menyapu, terjadi perubahan di unsur fonologisnya.

      Hapus
  7. Nama: Muhammad Heri Setiawan
    Nim: A1B112004

    Saya ingin bertanya
    1. Fonem /N/ pada meN- dan peN- berubah menjadi fonem /ñ/ apabila bentuk dasar yang mengikutinya berawal dengan fonem /s, s̃, c, j/ apakah konsep tersebut berlaku pada kata serapan bahasa asing? Mengapa demikian? Jelaskan!

    2. Mengapa dalam peluluhan fonem /N/ pada meN- jika bertemu fonem /k,p,t,s/ tidak konsisten, misalkan pada bentuk meN- bertemu sikat menjadi menyikat sedangkan meN- bertemu kupas menjadi mengupas? Jelaskan!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: M. Nazmi Fadillah
      saya akan menjawab pertanyaan dari heri setiawan
      A. Masih berlaku karena sama saja dalam penerapan dalam bahasa Indonesia jika menggunakan meN- tetapi tidak berlaku jika menggunakan peN-
      Contoh :
      meN- + bentuk dasar yang berawalan fonrm /s/, misalnya :
      meN- + support  menyupport
      dan
      peN- + bentuk dasar yang berawalan fonrm /s/, misalnya :
      peN- + support  pensupport
      B. Menurut pertanyaan yang anda berikan mengapa dari dua bentuk fonem menjadi berbeda
      Itu dikarenakan oleh fonem awal yang ada dari morfem

      Hapus
  8. Nama: Hafiz Zairullah
    NIM: A1B112019

    Kelompok kalian ada menyebutkan pada pembahasan perubahan bunyi bahwa bunyi /N/ harus berubah menjadi bunyi nasal yang artikulator dan daerah artikulasinya sama homorgan, dengan bunyi pertama bentuk dasarnya. Nah, yang ingin saya tanyakan adalah apa yang dimaksud dengan homorgan?

    Apakah hanya meN- dan peN- saja yang dapat digunakan menjadi morfofonemik? bagaimana dengan ber- ke- dan sebagainya, apakah bisa digunakan juga sehingga menjadi morfofonemik? jelaskan. Terima kasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Dini Nurlaili
      NIM: A1B112001
      1. Homorgan itu daerah dasar artikulasi.
      contoh peN+lupa = pelupa
      kalau kita menyebut pelupa bunyi nya aneh di alairlat pengucap kita.
      2, tidak hanya meN dan peN saja yang dapat digunakan sebagai morfofonemik. morfofonemik dalam penbentukan kata bahasa Indonesia banyak terdapat pada prefiks ber-, ter-, sufiks -an, konfiks ke-an. Jadi, ber- dan ke- bisa digunakan juga sebagai morfofonemik.
      contohnya
      ber+kerja = bekerja
      ke-an+ duduk/ duduk/ dudu?/kedudukan/k dudukan
      /e/ fonem glotal, fonem glotal itu tidak di tuliskan

      Hapus
  9. Nama: Ovaliani Agrippina Tauflin
    Nim: A1B112071

    1. Dari penjelasan kalian tentang perubahan bunyi fonem /N/ pada meN yang mengikuti bentuk dasar fonem /t,d,s/. Mengapa khusus fonem /s/ saja yang berasal dari bahasa asing sedang fonem /t dan s/ tidak termasuk. tolong jelaskan, apakah ada bahasa-bahasa lain sehingga khusus fonem /s/ saja yang berasal dari bahasa asing !

    2. mengapa proses penghilangan bunyi fonem /N/ harus dihilangkan, misalkan dari kata dasar coba menjadi mencoba jika fonem /N/ nya dihilangkan katanya berubah menjadi mecoba saja dan tidak mengandung makna. tolong jelaskan mengapa, jadi harus dihilangkan ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. 1.Tidak karena seperti yang kita ketahui dalam bahasa asing kebanyakan bentuk dasar yang berawalan fonem /s/ contohnya saja seperti
      meN-+sosialisasi = mensosialisasi
      meN- an+sukses = mensuksesan
      2. Dalam proses hilangnya fonem /N/ pada meN peN karena adanya pertemuan morfem meN dan peN dengan bentuk dasar yang berawal dengan fonem /l, r, y,w dan nasal/
      contohnya
      meN+/l/eral = melerai
      sedangkan mencoba yang anda contohkan tidak termasuk penghilangan karena berawal dengan fonem /c/ bukan /l, r, y, w dan nasal/

      Hapus
    2. saya yang menjawab di atas
      Nama: Erlinasari
      NIM: A1B112074

      Hapus
  10. Nama: Novinda Wanti
    ;NIM: A1B11 2007akan menjawab pertanyaan Siti Nailah
    Di dalam dapat bunyi terdapat contoh
    meN-+bom = mengebom
    karena morfem meN mempunyai struktur fonologis me-, memsama meN=-, men-, meny-, meng-, dan menge-. Jadi, di dalam penmbahan bunyi meN- dibaca menjadi menge- yang mengalami perubahan fonem. kemudian di dalam perubahn bunyi terdapat contoh yang sama meN-+bom = mengebom.karena fonem /N/ berubah menjadi /h/ sehingga /N/ itu dibaca ng, seperti yang telah dikemukakan pada pembahasan mengenai perubahan fonem.

    BalasHapus
  11. Nama Nurhidayah
    Menjawab prtanyaan Umi Hasanah
    Karena memang pd perubahan, penambahan, dan penghilangan itu bergantung pd kondisi bentuk dsar yg mengikutint shingga hal itu bisa trjadi.
    Perubahan fonem /N/ pd morfem meN dan peN menjadi fonem /M/ dengan bila bentuk dsar yg mengikutinya berawal /p,b,f/ bila tidak memenuhi syarat tsb maka tidak ada prubahan fonem
    Cth
    MeN+fonem /p/
    MeN+paksa=memaksa
    PeN+fonem /f/
    PeN+fitnah=memfitnah

    BalasHapus
  12. Saya Dini Ervina A1B112055, maaf jika terlambat merespon, tapi disini saya hanya mencoba menambahkan jawaban dari Noor Janah atas pertanyaan Kartini.
    Tambahan :
    Saya akan menjelaskan mengenai morfofonemik terlebih dahulu, morfofonemik adalah kajian mengenai terjadinya perubahan bunyi atau perubahan fonem sebagai akibat dari adanya proses morfologi, baik proses afiksasi, proses reduplikasi, maupun proses komposisi, sementara morfologis adalah proses pembentukan kata, baik proses morfologis 1 maupun proses morfologis 2.
    Saya dapat menyimpulkan mengenai apa hubungan dari morfofonemik dan proses morfologi, menurut saya hubungan spesifiknya tidak terlihat, hanya saja dalam pembelajaran morfologi bahasa Indonesia dapat dikatakan, morfofonemik ada karena adanya proses morfologis, maksudnya adalah perubahan bunyi (morfofonemik) terjadi setelah terjadinya pembentukan kata (proses morfologis).
    Terima kasih, semoga dapat diterima :)

    BalasHapus
  13. Jadi apakah morfofonemik itu merupan proses fonologi bukan morphologi?

    BalasHapus
  14. Jangan lupa juga buka https://serangkaisastrakaryamahasiswa.blogspot.com/2018/11/cerpen.html?m=1
    Loke dan comment se banyak banyaknya karena disana rasa oenasaran tentang sastra akan terkupas semua

    BalasHapus