MORFOFONEMIK I
20
MORFOFONEMIK I
1.
PENGERTIAN
MORFOFONEMIK
Kata
morfofonemik menunjukan adanya hubungan antara morfem dengan fonem.
Morfofonemik itu sendiri merupakan perubahan bentuk sebuah morfem berdasarkan
bunyi lingkungannya, yaitu yang menyangkut hubungan antara morfem dan fonem
(Parera, 1988:30). Morfofonemik mempelajari perubahan-perubahan fonem yang
timbul sebagai akibat pertemuan morfem dengan morfem lain (Ramlan, 1983:73).
Morfofonemik
adalah kajian mengenai terjadinya perubahan bunyi atau perubahan fonem sebagai
akibat dari adanya proses morfologi, baik proses afiksasi, proses reduplikasi,
maupun proses komposisi. Contohnya, dalam proses pengimbuhan sufiks-an pada
dasar “hari” akan muncul bunyi {y}, yang dalam artografi tidak dituliskan
tetapi dalam ucapan di tuliskan.
Contoh
: hari + an menjadi [hariyan]
Selain
itu, dalam proses pengimbuhan sufiks-an pada dasar “jawab” akan terjadi
pergeseran letak bunyi {b} kebelakang, membentuk suku kata baru.
Contoh
: ja.wab + an menjadi [ja.wa.ban].
2. PENGHILANGAN
BUNYI
Proses
hilangnya fonem /N/ pada meN- dan peN- terjadi karena adanya pertemuan
morfem meN- dan peN- dengan bentuk dasar yang berawal dengan fonem /I,r,y,w,dan
nasal/.
Misalnya:
meN-
+ lerai menjadi melerai
peN-
+ lupa menjadi pelupa
Fonem
/r/ pada morfem ber-, per-, dan ter- hilang sebagai akibat pertemuan morfem-morfem itu dengan
bentuk dasar yang berawal dengan fonem /r/ dan bentuk dasar yang suku
pertamanya berakhir dengan /r/.
Misalnya:
Ber-
+ rapat menjadi berapat
Per-
+ ragakan menjadi peragakan
Ter-
+ rasa menjadi terasa
Fonem-fonem
/p,t,s,k/ pada awal morfem hilang akibat peertemuan morfem meN- dan peN- dengan
bentuk dasar yang berawal dengan fonem-fonem tersebut.
Misalnya:
meN-
+ paksa menjadi memaksa
peN-
+ pengkas menjadi pemangkas
Demikianlah
proses morfofonemik yang dikemukakan oleh Ramlan, yaitu penggunaan perlambangan
yang berbeda untuk afiks-afiks tertentu ramlan menggunakan lambing meN-, peN-,
dan peN-an.
3.
PENAMBAHAN
BUNYI
Proses
penambahan bunyi, antara lain terjadi karena adanya pertemuan morfem meN- dengan bentu dasar yang terdiri
atas satu suku kata fonem tambahannya ialah / /, sehingga meN- berubah menjadi menge-.
Misalnya:
meN-
+ bom menjadi mengebom
Proses
penambahan fonem / / terjadi karena adanya pertemuan morfem peN- dengan bentuk dasar yang terdiri
atas satu suku, sehingga morfem peN-
berubah menjadi penge-.
Misalnya:
peN-
+ bor menjadi pengebor
Pada
contoh-contoh tersebut diatas jelaslah bahwa selain proses penambahan fonem /
/, terjadi juga proses perubahan fonem, yaitu perubahan fonem /N/ menjadi /n/
seperti yang telah dikemukakan pada pembahasan mengenai perubahan fonem.
Pertemuan morfem –an, ke-an, pe-an
dengan bentuk dasarnya, dapat menyebabkan adanya penambahan fonem /?/ apabila
bentuk dasarnya berakhir dengan vokal /a/, penambahan /w/ apabila bentuk
dasarnya berakhir dengan /u,o,aw/, dan terjadi penambahan /y/ apabila bentuk
dasarnya berakhir dengan /i,ay/.
Misalnya:
-an
+ hari menjadi harian/hariyan/
ke-an
+ pandai/panday menjadi kepandaian/kepandayan/
per-an
+ hati mejadi perhatian/perhatiyan/
peN-an
+ cuci menjadi pencucian/pencuciyan/
4.
PERUBAHAN
BUNYI
Proes
perubahan fonem terjadi karena adanya pertemuan fonem meN- dan peN- dengan
bentuk dasarnya. Fonem /N/ pada kedua morfem berubah menjadi /m,n,ñ,ŋ/, hingga
morfem meN- berubah menjadi mem-, men-, meny-, dan meng-,
an morfem peN- berubah menjadi pem-, pen-, peny-, dan peng-. Perubahan-perubahan itu
tergantung pada kondisi bentuk dasar yang mengikutinya. Dalam hal ini bunyi /N/
harus berubah menjadi bunyi nasal yang articulator dan daerah artikulasinya
sama homorgan, dengan bunyi pertama bentuk dasarnya.
Misalnya
:
meN-
berubah menjadi mem- apabila melekt pada bentuk dasar yang diawali dengan fonem
b sebab bunyi nasal yang homorgan dengan b/ adalah /m/.
Selanjutnya,
kaidah-kaidah perubahan bunyi nasal (/N/) tersebut dapat di ikhtisarkan sebagai
berikut :
a) Fonem
/N/ pada morfem meN- dan peN- berubah menjadi fonem /m/ apabila
bentuk dasar yang mengikutinya berawal dengan /p,b,f/. Uraiannya sebagai
berikut:
1) meN-
+ bentuk dasar yang berawal fonem /p/,misalnya:
meN-
+ paksa menjadi memaksa
2) peN-
+ bentuk dasar yang berawal fonem /p/,misalnya:
peN-
+ paksa menjadi pemaksa
3) meN-
+ bentuk dasar yang berawal fonem /b/, misalnya:
meN-
+ bantu menjadi membantu
4) peN-
+ bentuk dasar yang berawal fonem /b/, misalnya :
peN-
+ bantu menjadi pembantu
5) meN-
+ bentuk dasar yang berawal fonem /f/, misalnya:
meN-
+ fitnah menjadi memfitnah
6) peN-
+ bentuk dasar yang berawal fonem /f/, misalnya:
peN-
+ fitnah menjadi pemfitnah
b) Fonem
/N/ pada meN berubah menjadi fonem
/n/ apabila bentuk dasar yang mengikutinya berawal dengan fonem /t,d,s,/. Fonem
/s/ disini hanya khusus bagi beberapa bentuk dasar yang berasal dari bahasa
asing yang masih mempertahankan keasingannya. Uraiannya adalah sebagai berikut
:
1) meN-
+ bentuk dasar yang berawal fonem /t/, misalnya :
meN-
+ tulis menjadi menulis
2) peN-
+ bentuk dasar yang berawal fonem /t/, misalnya :
peN-
+ tulis menjadi penulis
3) meN-
+ bentuk dasar yang berawal fonem /d/, misalnya :
meN-
+ datangkan menjadi mendatangkan
4) peN-
+ bentuk dasar yang berawal fonem /d/, misalnya :
peN-
+ datang menjadi pendatang
5) peN-
+ bentuk dasar yang berawal fonem /s/, misalnya :
meN-
+ support menjadi mensupport
6) peN-
+ bentuk dasar yang berawal fonem /s/, misalnya :
peN-
+ support menjadi pensupport
c) Fonem
/N/ pada morfem meN- dan peN berubah menjadi /ñ/ apabila bentuk
dasar yang mengikutinya berawal dengan /s, s, c, j/. uraiannya sebagai berikut:
1) meN-
+ bentuk dasar yang berawal fonem /s/, misalnya :
meN-
+ sapu menjadi menyapu
2) peN-+
bentuk dasar yang berawal fonem /s/, misalnya :
peN-
+ sapu menjadi penyapu
3) meN-
+ bentuk dasar yang berawal fonem /s/, misalnya :
meN-
+ syaratkan menjadi mensyaratkan
4) meN-
+ bentuk dasar yang berawal fonem /c/, misalnya :
meN-
+ cari menjadi meñcari
5) peN-
+ bentuk dasar yang berawal fonem /c/, misalnya:
peN-
+ cari menjadi peñcari
6) meN-
+ bentuk dasar yang berawal fonem /j/, misalnya:
meN-
+ jadi menjadi menjadi
7) peN-
+ bentuk dasar yang berawal fonem /j/, misalnya :
peN-
+ judi menjadi penjudi
d) Fonem
/N/ pada meN- dan peN berubah menjadi /h/
apabila bentuk dasar yang mengikutinya berawal dengan fonem /k, g, x, h, dan
vocal/. Uraiannya adalah sebagai berikut :
1) meN-
+ bentuk dasar yang berawal fonem /k/,
misalnya:
meN- + kacau menjadi mengacau
2) peN-
+
bentuk dasar yang berawal fonem /k/, misalnya :
peN- + kacau menjadi pengacau
3) meN- + bentuk dasar yang berawal fonem /g/,
misalnya :
meN- + garis menjadi menggaris
4) peN-
+ bentuk dasar yang berawal fonem /g/,
misalnya :
peN- + garis menjadi penggaris
5) meN-
+ bentuk dasar yang berawal fonem /k/,
misalnya :
meN- + khayalkan menjadi mengkhayalkan
6) peN-
+ bentuk dasaar yang berawal fonem /k/,
misalnya :
peN- + khayal menjadi pengkhayal
7) meN-
+ bentuk dasar yang berawal fonem /h/, misalnya :
meN- + habiskan menjadi menghabiskan
8) peN-
+ bentuk dasar yang berawal fonem /h/,
misalnya :
peN- + habisan menjadi penghabisan
9) meN-
+ bentuk dasar fonem awalnya berupa vokal, misalnya :
meN- + angkut
menjadi mengangkut
10) peN-
+ bentuk dasar fonem awalnya berupa vokal, misalnya :
peN- + angkut
menjadi pengangkut
fonem /N/ juga
berubah menjadi /h/ apabila menghadapi bentuk dasar
yang terdiri atas satu suku kata. Uraiannya adalah sebagai berikut :
1) meN-
+ bentuk dasar yang berawal fonem /b/, misalnya :
meN- + bom
menjadi mengebom
2) peN-
+ bentuk dasar yang berawal fonem /b/,
misalnya :
peN- + bom
menjadi pengebom
Di samping proses perubahan, pada kata-kata itu
terjadi juga proses penambahan, ialah penambahan fonem / /.
Fonem /r/ pada morfem ber- dan per-
mengalami perubahan menjadi /l/ sebagai akibat.
Pertemuan morfem tersebut dengan bentuk dasarnya
yang berupa morfem ajar
Ber- + ajar menjadi belajar
Per- + ajar menjadi
pelajar
Fonem /?/ pada
morfem-morfem duduk /dudu?/, rusak rusa?/, petik /p ti?/, dan sebagainya,
berubah menjadi /k/ sebagai akibat pertemuan morfem-morfem itu dengan morfem
ke-an, peN-an, dan - i, misalnya :
Ke-an + duduk
/ dudu?/ menjadi kedudukan / k dudukan/
peN-an + petik / peti?/ menjadi
pemetikan / p m tikan/
- i + petik / peti?/
menjadi petiki /p tiki/
Umi Hasanah A1B112012
BalasHapusMengapa perubahan, penambahan ,dan penghilangan fonem terjadi pada huruf-huruf tertentu ? Apakah ada syarat atau ketentuan huruf yang dapat merubah,menambah dan menghilngkan fonem seperti huruf vokal atau konsonan! tolang jelaskan
Nama: Siti Nailah
BalasHapusNIM: A1B112011
Saya ingin bertanya, apa perbedaan penambahan bunyi dengan perrubahan bunyi berdasarkan contoh meN + bom menjadi mengebom ?
Nama: Khairunnisa
BalasHapusNIM: A1B112057
Perubahan bunyi fonem meN- berubah menjadi mem-, men-, meny-, dan meng-, dan morfem peN- berubah menjadi pem-, pen-, peny-, dan peng-. Mengapa perubahan-perubahan itu harus tergantung pada kondisi bentuk dasar yang mengikutinya?
Nama: Dini Nurlaili
BalasHapusNIM: A1B112001
saya akan menjawab pertanyaan dari Khairunisa
meN dan peN nasal berubah tergantung pd kondisi bntuk dasar yg mengikutinya karena penyesuaian fonem nasal pada daerah dasar artikulasi kita.
contoh:
peN+lupa= pelupa
meN-an+lupa= melupakan
apabila meN dan peN tidak mengikuti kondisi bentuk dasarnya maka akan menjadi:
peN+lupa= penlupa
meN-an+lupa= menlupakan
Terima kasih
nama : kartini
BalasHapusnim : A1B112024
saya ingin bertanya apa yang membedakan morfofonemik dengan proses morfologis lainnya, seperti proses morfologisI atau II, dan apa hubungannya?
terimakasih.
Nama: Noor Janah
HapusNIM : A1B112006
Saya akan menjawab pertanyaan Kartini. Menurut saya perbedaan proses morfologis dengan morfofonemik yaitu, proses morfologis merupakan proses pembentukan kata, misalnya dalam komposisi , kata kambing + hitam menjadi kambing hitam. Sedangkan morfofonemik merupakan perubahan bentuk morfem berdasarkan bunyi, misalnya dalam penghilangan bunyi morfem peN- + lupa menjadi pelupa.
Adapun hubungan antara proses morfologis dengan morfofonemik ialah perubahan bunyi atau perubahan fonem dalam morfofnemik merupakan akibat dari adanya proses morfologis, baik proses afiksasi, proses rduplikasi, maupun proses komposisi. Contohnya, dalam proses pengimbuhan sufiks -an pada dasar “hari” akan muncul bunyi {y}, yang dalam artografi tidak dituliskan tetapi dalam ucapan di tuliskan.
Contoh : hari + an menjadi [harian]
NAMA : NUR AYU LESTARI
BalasHapusNIM : A1B112031
Penghilangan bunyi
meN-+ lerai menjadi melarai
PeN-+ lupa menjadi pelupa
Penambahan bunyi
MeN-+bom menjadi mengebom
PeN-+bor menjadi pengebor
Menurut kelompok kalian, apa yang menyebabkan terjadinya penghilangan dan penambahan bunyi tersebut? Dan menyapu, menurut kalian apakah penambahan bunyi ataukah penghilangan bunyi?
Nama : M.Fahrizal Rizakiadi
HapusNIM: A1B112033
Saya akan menjawab pertanyaan dari Tari penghilangan bunyi Men+lerai = melerai, Pen+lupa = pelupa.
Menurut saya, terjadinya penambahan dan pengurangan bunyi tergantung pada kondisi bentuk dasar yang mengikutinya. Contohnya, pada penambahan bunyi terjadi karena danya pertemuan morfem meN- dengan bentuk dasar yang terdiri atas suku kata yaitu /ŋ/ yang di baca menjadi ng, yang telah di pelajari dalam proses fonologi.. Sedangkan pada penghilangan bunyi terjadi karena pertemuan morfem meN- dan peN dengan bentuk dasar yang berawalan dengan fonem /I,r,y,w/, dan nasal/. Jadi, jika tidak memenuhi syarat yang telah ditetapkan maka penambahan dan penghilangan bunyi tidak dapat terjadi.
Menyapu menurut kami adalah termasuk penambahan bunyi karena meN- + sapu = menyapu. meN- memiliki struktur fonologis me-, mem-, men-, meng-, menge-, dan meny-. Sehingga meN + sapu = menyapu, terjadi perubahan di unsur fonologisnya.
Nama: Muhammad Heri Setiawan
BalasHapusNim: A1B112004
Saya ingin bertanya
1. Fonem /N/ pada meN- dan peN- berubah menjadi fonem /ñ/ apabila bentuk dasar yang mengikutinya berawal dengan fonem /s, s̃, c, j/ apakah konsep tersebut berlaku pada kata serapan bahasa asing? Mengapa demikian? Jelaskan!
2. Mengapa dalam peluluhan fonem /N/ pada meN- jika bertemu fonem /k,p,t,s/ tidak konsisten, misalkan pada bentuk meN- bertemu sikat menjadi menyikat sedangkan meN- bertemu kupas menjadi mengupas? Jelaskan!
Nama: M. Nazmi Fadillah
Hapussaya akan menjawab pertanyaan dari heri setiawan
A. Masih berlaku karena sama saja dalam penerapan dalam bahasa Indonesia jika menggunakan meN- tetapi tidak berlaku jika menggunakan peN-
Contoh :
meN- + bentuk dasar yang berawalan fonrm /s/, misalnya :
meN- + support menyupport
dan
peN- + bentuk dasar yang berawalan fonrm /s/, misalnya :
peN- + support pensupport
B. Menurut pertanyaan yang anda berikan mengapa dari dua bentuk fonem menjadi berbeda
Itu dikarenakan oleh fonem awal yang ada dari morfem
Nama: Hafiz Zairullah
BalasHapusNIM: A1B112019
Kelompok kalian ada menyebutkan pada pembahasan perubahan bunyi bahwa bunyi /N/ harus berubah menjadi bunyi nasal yang artikulator dan daerah artikulasinya sama homorgan, dengan bunyi pertama bentuk dasarnya. Nah, yang ingin saya tanyakan adalah apa yang dimaksud dengan homorgan?
Apakah hanya meN- dan peN- saja yang dapat digunakan menjadi morfofonemik? bagaimana dengan ber- ke- dan sebagainya, apakah bisa digunakan juga sehingga menjadi morfofonemik? jelaskan. Terima kasih.
Nama: Dini Nurlaili
HapusNIM: A1B112001
1. Homorgan itu daerah dasar artikulasi.
contoh peN+lupa = pelupa
kalau kita menyebut pelupa bunyi nya aneh di alairlat pengucap kita.
2, tidak hanya meN dan peN saja yang dapat digunakan sebagai morfofonemik. morfofonemik dalam penbentukan kata bahasa Indonesia banyak terdapat pada prefiks ber-, ter-, sufiks -an, konfiks ke-an. Jadi, ber- dan ke- bisa digunakan juga sebagai morfofonemik.
contohnya
ber+kerja = bekerja
ke-an+ duduk/ duduk/ dudu?/kedudukan/k dudukan
/e/ fonem glotal, fonem glotal itu tidak di tuliskan
Nama: Ovaliani Agrippina Tauflin
BalasHapusNim: A1B112071
1. Dari penjelasan kalian tentang perubahan bunyi fonem /N/ pada meN yang mengikuti bentuk dasar fonem /t,d,s/. Mengapa khusus fonem /s/ saja yang berasal dari bahasa asing sedang fonem /t dan s/ tidak termasuk. tolong jelaskan, apakah ada bahasa-bahasa lain sehingga khusus fonem /s/ saja yang berasal dari bahasa asing !
2. mengapa proses penghilangan bunyi fonem /N/ harus dihilangkan, misalkan dari kata dasar coba menjadi mencoba jika fonem /N/ nya dihilangkan katanya berubah menjadi mecoba saja dan tidak mengandung makna. tolong jelaskan mengapa, jadi harus dihilangkan ?
1.Tidak karena seperti yang kita ketahui dalam bahasa asing kebanyakan bentuk dasar yang berawalan fonem /s/ contohnya saja seperti
HapusmeN-+sosialisasi = mensosialisasi
meN- an+sukses = mensuksesan
2. Dalam proses hilangnya fonem /N/ pada meN peN karena adanya pertemuan morfem meN dan peN dengan bentuk dasar yang berawal dengan fonem /l, r, y,w dan nasal/
contohnya
meN+/l/eral = melerai
sedangkan mencoba yang anda contohkan tidak termasuk penghilangan karena berawal dengan fonem /c/ bukan /l, r, y, w dan nasal/
saya yang menjawab di atas
HapusNama: Erlinasari
NIM: A1B112074
Nama: Novinda Wanti
BalasHapus;NIM: A1B11 2007akan menjawab pertanyaan Siti Nailah
Di dalam dapat bunyi terdapat contoh
meN-+bom = mengebom
karena morfem meN mempunyai struktur fonologis me-, memsama meN=-, men-, meny-, meng-, dan menge-. Jadi, di dalam penmbahan bunyi meN- dibaca menjadi menge- yang mengalami perubahan fonem. kemudian di dalam perubahn bunyi terdapat contoh yang sama meN-+bom = mengebom.karena fonem /N/ berubah menjadi /h/ sehingga /N/ itu dibaca ng, seperti yang telah dikemukakan pada pembahasan mengenai perubahan fonem.
Nama Nurhidayah
BalasHapusMenjawab prtanyaan Umi Hasanah
Karena memang pd perubahan, penambahan, dan penghilangan itu bergantung pd kondisi bentuk dsar yg mengikutint shingga hal itu bisa trjadi.
Perubahan fonem /N/ pd morfem meN dan peN menjadi fonem /M/ dengan bila bentuk dsar yg mengikutinya berawal /p,b,f/ bila tidak memenuhi syarat tsb maka tidak ada prubahan fonem
Cth
MeN+fonem /p/
MeN+paksa=memaksa
PeN+fonem /f/
PeN+fitnah=memfitnah
Saya Dini Ervina A1B112055, maaf jika terlambat merespon, tapi disini saya hanya mencoba menambahkan jawaban dari Noor Janah atas pertanyaan Kartini.
BalasHapusTambahan :
Saya akan menjelaskan mengenai morfofonemik terlebih dahulu, morfofonemik adalah kajian mengenai terjadinya perubahan bunyi atau perubahan fonem sebagai akibat dari adanya proses morfologi, baik proses afiksasi, proses reduplikasi, maupun proses komposisi, sementara morfologis adalah proses pembentukan kata, baik proses morfologis 1 maupun proses morfologis 2.
Saya dapat menyimpulkan mengenai apa hubungan dari morfofonemik dan proses morfologi, menurut saya hubungan spesifiknya tidak terlihat, hanya saja dalam pembelajaran morfologi bahasa Indonesia dapat dikatakan, morfofonemik ada karena adanya proses morfologis, maksudnya adalah perubahan bunyi (morfofonemik) terjadi setelah terjadinya pembentukan kata (proses morfologis).
Terima kasih, semoga dapat diterima :)
Jadi apakah morfofonemik itu merupan proses fonologi bukan morphologi?
BalasHapusJangan lupa juga buka https://serangkaisastrakaryamahasiswa.blogspot.com/2018/11/cerpen.html?m=1
BalasHapusLoke dan comment se banyak banyaknya karena disana rasa oenasaran tentang sastra akan terkupas semua